Yayasan Pendidikan Al-Mukhtar

LIMA PULUH DELAPAN HARI DI BAWAH LANGIT QURAN (Pasal 1)
By Administrator Jumat, 18 September 2015 - 12:52:53 WIB 0 Komentar Dibaca: 1096 kali

Pasal I

I’DAD[1]

A. Pengertian I’dad

I’dad artinya persiapan yang harus terpenuhi sebelum melakukan proses menghafal, karena menghafal al-Quran itu merupakan sesuatu yang besar dan tidak mudah. Persiapan ini sangat penting untuk menghindari terjadinya sesutau yang tidak diinginkan pada saat proses menghapal berlangsung, karena layaknya sebuah tugas besar, dalam menghapal al-Quran sudah dipastikan akan banyak sekali gangguan, rintangan, hambatan, cobaan, dan godaan yang menghadang, khususnya pada pertengahan kedua. Dengan persiapan yang matang, segala bentuk rintangan tidak akan pernah menggoyahkannya sedikit pun. Karenanya pula, peroses menghapal akan menjadi terasa lebih mudah dan ringan.[2]

B. Macam-Macam I’dad
1. Cinta[3]

Segala sesuatu harus dimulai dengan cinta, karena cinta akan membawa kepada keyakinan, pengagungan, perjuangan, pengorbanan, kepatuhan, dan usaha tanpa pamrih, sehingga segala sesuatu yang besar akan tampak kecil, dan segala sesuatu yang berat akan terasa ringan. Misalnya, seorang laki-laki yang sedang dilanda cinta kepada seorang perempuan. Untuk merealisasikan cintanya, tentu apa pun cara akan ditempuhnya, meskipun nyawa menjadi taruhan. Capek, sakit, lapar, dan getir tidak akan dirasakannya lagi, karena dia yakin akan manisnya hasil akhir dari perjuangannya itu. Ketika kita bisa melakukan hal itu untuk seseorang yang kita cintai padahal itu tidak sepenuhnya benar, kenapa kita tidak bisa melakukannya untuk al-Quran, padahal itu cinta hakiki, karena merupakan perwujudan cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya yang merupakan puncak dari segala cinta.

Cinta al-Quran bisa muncul kapan saja dan di mana saja. Dan untuk memupuk cinta itu kita harus mengetahui dan mengenal al-Quran lebih dekat, juga hati kita harus senantiasa yakin bahwa:

a. Al-Quran adalah kalamullah Yang Maha Agung, Maha Suci, Maha Indah, dan Maha Besar di atas segalanya, sehingga tidak ada lintasan sedikit pun adanya sesuatu yang terkesan melebihi al-Quran
b. Al-Quran dapat memberikan segalanya, mewujudkan aneka macam harapan dan cita-cita, satu-satunya sumber kesuksesan dan kebahagiaan, dan memberikan syafaat di akhirat
c. Menghapal al-Quran merupakan tugas suci dan mulia, yang menjadikan penghapalnya disejajarkan dengan malaikat[4] dan dikabulkan doa
d. Al-Quran dimudahkan oleh Allah SWT untuk dihapal, dan Allah SWT akan memberikan kemudahan bagi orang yang serius menghafalkannya[5]

Pengetahuan tentang al-Quran bisa langsung didapatkan dari membacanya setiap hari, hadits-hadits Nabi yang menceritakan fadhilah-fadhilahnya, dan informasi dari ustadz-ustadz, guru-guru, dan lain sebagainya. Upayakan dengan semaksimal mungkin untuk mendapatkan pengetahuan itu agar cinta ini semakin betambah dan tidak tergoyahkan. Juga, jangan lupa berdoa kepada-Nya yang di tangan-Nya tergenggam segala cinta.

2. Cita-Cita[6]

Yang dimaksud cita-cita disini adalah keinginan yang begitu besar dan kuat untuk menghapal al-Quran hingga mengalahkan keinginan-keinginan yang lain. Cita-cita berawal dari cinta dan ketertarikan. Bayangkan, misalnya suatu ketika kita sangat ingin buah nangka, tapi kita tidak bisa mendapatkannya karena uangnnya tidak cukup atau barangnya tidak ada. Tentu buah nangka itu akan terus mengganggu pikiran hingga tidak nyenyak tidur, lalu semua upaya dan kemampuan pun dikerahkan untuk mendapatkannya. Biasanya hal ini terjadi pada anak-anak, atau perempuan yang sedang ngidam. Artinya, keinginan menghapal al-Quran itu harus sedemikian besar dan kuat seperti anak-anak menginginkan sesuatu dan perempuan yang sedang ngidam. Atau lebih dari itu, kita sebisa mungkin harus menganggap membaca al-Quran sebagai kebutuhan primer, bahkan lebih. Coba lihat orang yang sudah sangat lapar ketika melihat makanan, atau orang yang sudah tidak kuat hendak buang air besar, tentu tidak akan bisa ditahan. Ditahan-tahan pun akan keluar juga. Nah, keinginan menghapal al-Quran harus sampai ketingkat itu, tidak dapat ditahan lagi.

Cita-cita yang tinggi dan cinta kepada al-Quran harus ditanamkan kepada anak-anak sejak dini dengan cara memperkenalkannya, menceritakan keistimewaan-keistimewaanya, keutamaan-keutamaanya, dan kelebihan-kelebihannya, baik dalam bentuk pesan-pesan sederhana, maupun cerita orang-orang shalih terdahulu yang berinteraksi dengan al-Quran, sehingga anak-anak mempunyai kontak psikilogis yang baik dengan al-Quran sejak dini.

3. Niat[7]

Niat artinya kebulatan hati yang tidak dapat diganggu-gugat untuk menghapal al-Quran bersamaan dengan melakukankannya. Tanda-tanda niat yang kuat adalah tidak berubah meskipun keadaan serba tidak mendukung. Misalnya orang tua tidak mendukung, waktu yang sempit karena berbenturan dengan kegiatan lain yang menumpuk, kekurangan biaya, dihina orang, sering sakit, dan IQ yang standar.

Niat yang menggebu-gebu tidak sepenuhnya benar apabila tidak disandarkan kepada keikhlasan.[8] Niat yang benar dalam menghapal al-Quran adalah kebulatan hati untuk menghapal dengan tujuan mengharap keridhoan Allah SWT, pahala dari-Nya, dan ampunan-Nya. Karena perjalanan dalam manghapal al-Quran tidak selamanya mulus, kadang ada kesulitan yang benar-benar sulit dan tidak dapat dipecahkan dalam waktu yang singkat, biasanya, dalam menghadapinya, semangat akan berkurang karena mungkin ada rasa kecewa dalam kondisi fisik yang lemah dan otak yang kelelahan. Tetapi kalau niatnya lillahi ta’ala, tentu hal semacam itu tidak seharusnya terjadi. Coba renungkan kata-kata al-Ghazaly di bawah ini:

“Aku menuntut ilmu bukan untuk Allah, tetapi ilmu tidak mau kecuali untuk Allah”

4. Tahsinul Qiraat[9]

Salah satu masalah besar dalam menghapal al-Quran adalah bacaan yang belum baik. Orang yang membaca al-Qurannya belum baik relative lebih lambat hapalannya dari pada orang yang sudah baik. Belum baik membaca al-Quran maksudnya adalah:

1. Belum bisa membaca al-Quran sama sekali, disebabkan belum belajar membaca akibat masih anak-anak, tidak ada guru, atau tidak mau belajar
2. Belum lancar membaca al-Quran, disebabkan jarang membacanya, belum terbiasa, atau tidak serius belajarnya
3. Belum benar membaca al-Quran, disebabkan belajar tanpa guru, tidak selesai belajarnya, atau berguru kepada orang yang salah
Oleh karena itu, sebelum melangsungkan kegiatan menghapal berusahalah semaksimal mungkin untuk memperbaiki bacaan dengan cara belajar yang benar kepada guru yang benar sampai selesai, dan memperbanyak membacanya pagi dan petang. Mungkin ini akan berlangsung lama sesuai besik yang pernah dimiliki.
Untuk anak-anak, seiring dengan belajar tahsin, proses menghapal, khususnya surat-surat pendek, sangat baik dimulai sejak dini meskipun belum bisa membaca al-Quran. Kegiatan ini bisa dilakukan langsung oleh orang tuanya, atau orang yang diserahi amanah untuk mendidiknya, juga dapat dibantu dengan pemutaran kaset murattal secara rutin dan teratur. Tanamkan kepada anak-anak kecintaan kepada al-Quran sedini dan sebisa mungkin agar tumbuh dengan qalbu qurani.
5. Menentukan Mushaf[10]

Di Indonesia, bahkan di dunia, pada umumnya menghapal al-Quran dilakukan dengan menggunakan mushaf. Kecuali di sebagian negeri-negeri kaum Muslimin di Afrika seperti Maroko dan Libya, di sana mereka menghapal al-Quran dengan menggunakan sebuah papan. Ayat yang hendak dihapal, mereka tulis di papan tersebut, dan tidak dihapus kecuali telah benar-benar hapal. Di bagian bumi lain, ada yang menggunakan kaset, isyarat gerak, dan computer. Namun apa pun bentuknya, mushaf mutlak diperlukan.

Menghapal al-Quran dengan menggunakan mushaf dipandang efektik, karena biasanya menghapal itu lebih mudah dilakukan dengan cara melihat, karena mushaf dapat menampilkan gambar yang asli, mudah ditandai dalam setiap lembarnya, dan mudah dirujuk kembali ketika, misalnya, ada yang lupa. Hal ini menuntut agar proses menghapal dilakukan dengan menggunakan satu jenis mushaf. Tidak boleh berganti-ganti. Karena akan menimbulkan kekeliruan, dan kekacauan gambar yang telah terekam di otak akibat letak dan posisi ayat yang tidak sama.

Dalam memilih dan menentukan mushaf, sebaiknya perpegang kepada mushaf yang setiap sudut dari setiap lembarnya merupakan penutup ayat, atau dinamakan mushaf sudut. Mushaf sudut ini ada yang satu juz-nya sepuluh lembar, dan ada yang delapan lembar. Dan biasanya, yang umum digunakan adalah mushaf yang satu juz-nya sepuluh lembar. Kemudian pilihlah mushaf sudut yang ditulis dengan Rasm Utsmani, seperti mushaf yang diterbitkan oleh Kerajaan Arab Saudi. Dengan itu, diharapakan lebih banyak berkah dan nilainnya di sisi Allah SWT.

6. Waktu[11]

Kapan menghapal al-Quran? Kalau pertanyaan ini diartikan harus sejak kapan mulai menghapal al-Quran? Maka jawabannya, sedini mungkin. Dan manfaatkan masa muda, jangan menunda-nunda. Sampai kapan?. Ya, sampai hapal semuanya. Tidak ada kata terlambat untuk menghapal al-Quran. Seandainya ada orang yang mau menghapal al-Quran, tapi umurnya hanya tersisi satu menit lagi, maka mulailah menghapal. Tentu, di sisi Allah, yang satu menit ini lebih baik dari pada seluruh umurnya.

Namun, yang dimaksud waktu di sini ini bukan itu, tetapi saat-saat yang baik digunakan untuk menghapal. Secara umum waktu terdiri dari siang dan malam. Dan kita, Umat Muslim, telah mengetahui waktu-waktu tertentu untuk mendirikan shalat yaitu shubuh, zhuhur, ashar, maghrib, dan isya. Sebenarnya, setiap bagian dari siang dan malam, sepenuhnya mendukung terselenggaranya proses menghapal dengan baik, tapi kadang kondisi kita sendiri yang kurang mendukungnya di waktu-waktu tertentu. Jadi yang ditekankan di sisni adalah harus ada pengaturan waktu sesuai dengan kesibukan yang ada. Kemudian membuat target sesuai kemampuan yang dimiliki, mau berapa lama sampai khatamnya. Setelah itu bisa diperkirakan seharinya harus dapat berapa lembar agar khatam sesuai target.

Pada dasarnya waktu menghapal itu kapan saja, mungkin masing-masing orang akan berbeda. Tapi yang harus ditekankan, waktu menghapal harus lebih banyak dari waktu tidur.[12] Misalnya, rata-rata maksimal tidur setiap orang adalah 8 jam, maka waktu menghapal pun jangan kurang dari 8 jam, bahkan harus lebih. Sebisa mungkin pergunakanlah waktu panjang, yaitu waktu antara shubuh dan zhuhur, dan waktu antara isya dan shubuh. Menghapal jangan menunggu mmud, karena mmud itu tidak selamanya ada. Bisa jadi seharian mmud itu tidak datang-datang, sedangkan waktu terus berjalan. Usahakan bangun malam secara rutin tiap hari, dan manfaatkan waktu sebelum dan sesudah shalat fardhu.

7. Tempat[13]

Selain waktu, tempat juga sangat mempengaruhi baik dan buruk terselenggaranya kegiatan menghapal.[14] Tempat dapat berarti rumah, masjid, dan sebuah lembaga pendidikan semacam pesantren. Atau lebih khusus lagi, tempat dapat diartikan lokasi tertentu tempat melangsungkan kegiatan menghapal. Bisa jadi, bagi sebagian orang, suatu lokasi terasa enak dijadikan tempat melangsungkan kegiatan menghapal, dan bagi yang lain, tidak. Dan bisa jadi berpindah-pindah setiap saat. Misalnya, di pesantern, biasanya santri menghapal di dalam masjid, tapi kadang ia lebih enak menghapal di asrama, aula, majlis, halaman pesantren, lokasi tertentu di sekitar pondok, atau sambil berjalan.

Dari tempat-tempat yang telah disebutkan di atas, tempat dalam pengertian pesantren atau lembaga khusus tahfizh al-Quran adalah yang paling penting diperhatikan. Dalam menghapal al-Quran kadang harus ada hijrah atau belajar keluar. Kalau lingkungan rumah kondusif, mungkin kegiatan menghapal dilakukan cukup di rumah, tidak harus mesantren keluar. Tapi kalau tidak kondusif, biasanya kegiatan menghapal akan sulit dilakukan, kecuali harus keluar. Meskipun sebetulnya, kondusif dan tidaknya suatu tempat untuk melangsungkan kegiatan menghapal ditentukan oleh diri sendiri. Oleh karenanya, setelah niat menghapal begitu kuat, tentukan pasantren atau lembaga tahfizh mana yang akan dipilih. Tetapi harus konsisten, ketika telah memilih sebuah pesantren, jangan karena alasan tidak betah dan ini, itu, lantas keluar lagi sebelum target tercapai. Karena kalau memandang kehidupan pesantren dengan keinginan hati, maka akan banyak sekali ketidakcocokan di pesantren mana pun.

Pesantren memang perlu, tapi hal ini jangan dijadikan alasan untuk tidak menghapal manakala pesantren yang dihendaki sulit didapatkan. Misalnya, tidak ada biaya, orang tua tidak mengizinkan, atau memang tidak ada yang cocok. Menghapal harus tetap berjalan ketika niat telah bulat, jangan menunggu masuk pesantren yang belum diketahui kapan. Kalau telah mulai mengahapal, kemudian misalnya, kesempatan masuk pesantren yang dikehendaki itu ada, maka tinggal melanjutkan saja. Dan seandainya kesempatan itu tidak ada juga sampai kegiatan menghapal selesai, maka buat apa masuk pesantren, khan al-Quran-nya juga sudah hapal, bukannya masuk pesantren itu buat menghapal?.. Tapi kalau ada kesempatan, meskipun sudah hapal juga, masuk pesantren tetap perlu, karena kalau menghapal tanpa guru, biasanya ada saja yang salah.

Mursyid[15]

Mursyid adalah orang yang membimbing menghapal, dan tentunya juga harus hafizh. Bimbingan yang dilakukan oleh mursyid biasanya dalam bentuk menerima setoran hapalan, mengontrol dan mengkondisikan hapalan, memberikan saran, nasihat, arahan, dan motivasi, dan memeriksa bacaan. Maka dengan adanya mursyid kegiatan akan berlangsung dengan kontinyu dan dinamis. Selamat menghapal!

LANJUT PASAL 2

leave a comment