Yayasan Pendidikan Al-Mukhtar

LIMA PULUH DELAPAN HARI DI BAWAH LANGIT QURAN (Pasal 2)
By Administrator Jumat, 18 September 2015 - 12:59:23 WIB 0 Komentar Dibaca: 1791 kali

PASAL II

KAIFIYYAH[16]

(Proses dan Tata Cara Melangsungkan Kegiatan Menghapal)

A. Dzikir[17]

Setiap orang mungkin berbeda dalam metode dan cara menghapal. Namun secara umum, menghapal al-Quran dapat diartikan proses atau kegiatan memasukan ayat-ayat al-Quran ke dalam hati dan terus memeliharanya. Proses ini membutuhkan kerjasama yang solid antara otak, indra penglihatan atau pendengaran, hati, dan lidah. Pemusatan terpadu antara otak, mata, hati, dan lidah ini penulis namakan dzikir. Hal ini sangat menentukan, artinya, ketika ketiganya tidak bekerja dengan kompak, maka proses ini akan berlangsung dengan lambat, atau bahkan gagal.

Dzikir dapat dicapai dengan:

1. Terlebih dahulu, kosongkan pikiran dan konsentrasi. Tenang, ambil posisi yang tepat, tangan memegang mushaf dengan penuh pengagungan dan dalam keadaan suci. Usahakan menghadap qiblat, atau kalau bisa, sebelumnya bersih-bersih, mandi, memakai pakaian yang rapi, dan wewangian. Kemudian buka mushaf dengan membaca taawudz dan basmalah
2. Tajamkan penglihatan dan pusatkan kepada ayat yang hendak dihapal sedikit demi sedikit hingga dalam pikiran (otak) tidak tergambar apa-apa selain ayat itu. Usahakan, jangan sampai sedikit pun terbuka celah untuk masuknya hal lain ke dalam pikiran.
3. Baca ayat itu dengan perlahan-perlahan dalam hati, kemudian pejamkan mata dalam keadaan hati tetap membacanya sesuai dengan kemampuannya menangkap gambar yang disampaikan oleh mata melalui otak.
4. Kemudian lafazkan ayat itu dengan lisan secara perlahan-lahan dan dengan suara pelan, dan terus ulang-ulanglah sesuai kebutuhan hingga melekat dan jinak di lidah dengan baik. Kemudian lafazhkan dengan suara keras. Insyaallah ketika itu anda telah hapal.

Ayat yang sedang dihapal banyak yang tidak sama ukurannya. Ada yang sedang, ada yang panjang, dan ada yang pendek. Proses dzikir pada ayat yang pendek, terkesan mudah, sehingga mengabaikan konsentrasi penuh. Justru ini masalah, karena dikhwairkan akan mudah lupa. Dan ayat yang panjang, kadang-kadang memunculkan perasaan berat, sehingga konsentrasi pun terpecah. Ini pun berbahaya, karena tentu saja akan memperlambat proses dzikir. Dan ayat yang sedang, juga batasan-batasannya relative, bisa jadi menurut sebagian orang sedang, sebagian pendek, dan sebagian lagi panjang. Oleh karena itu, banyaknya ayat untuk sekali proses dzikir jangan dibatasi oleh ayat, tetapi disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki. Atau alternative lain adalah dengan cara perkalam atau perbaris. Terserah, mau sekali proses hanya sebaris, dua baris, atau langsung satu halaman.

Selain dengan mata, dzikir pun dapat dilakukan dengan memanfaatkan pendengaran. Namun, tentunya juga perlu ada orang lain yang membacakan ayatnya, baik langsung maupun rekaman. Bahkan jika dzikir pendengaran ini kemudian dilanjutkan dengan penglihatan, maka akan lebih baik lagi, karena antara satu sama lain akan saling melengkapi. Ketika penerimaan pendengaran kurang baik hingga menimbulkan keraguan, maka akan menjadi yakin setelah melihatnya. Begitu juga, ketika penglihatan tidak kuat menangkap gambar ayat, maka pendengaran akan menguatkannya.

Proses dzikir tidak menuntut harus mengetahui makna atau terjemah ayat. Oleh karenanya, meskipun metode dzikir ini awalnya diperuntukan bagi usia tertentu, sebagian anak-anak yang sudah lancar membaca al-Quran pun bisa melakukannya dengan bimbingan mursyid. Selanjutnya, untuk lebih memudahkan proses dzikir, terlebih dahulu baca ayatnya minimal tiga kali sambil diperhatikan letak posisinya, hukum bacaannya, atau bahkan hayati maknanya bagi yang mampu, termasuk memperhatikan kedudukan setiap lafazhnya menurut tinjauan ilmu Nahwu dan Sharaf.

B. Mujahadah[18]

Proses dzikir tidak selamanya berjalan mulus. Kadang konsentrsi berkurang, pemusatan melemah, stamina menurun, otak lelah, hingga pemusatan terpadu pun berantakan. Dalam kondisi seperti itu, jangan lantas menyurutkan semangat untuk terus berusaha. Maka di sinilah harus ada yang dinamakan Mujahadah , yaitu semangat yang membara, bersungguh-sungguh, bekerja sekuat tenaga, mengerahkan segala kemampuan, dan berdaya upaya sampai titik penghabisan.

Sulit dan tidaknya menghapal jangan dipersoalkan, yang penting jangan menghentikan kegiatan menghapal yang sedang berlangsung. Sesulit apa pun harus tetap maju, pantang mundur, meskipun telah gagal lebih dari seribu kali. Karena sebetulnya sulit itu muncul akibat kurang konsentrasi. Coba usahakan buat kondisi setenang mungkin hingga dapat konsentrasi penuh, lalu lakukan dzikir sebagaimana telah dijelaskan di atas, insyaallah akan ada sesuatu yang berbeda. Konsentrasi yang maksimal hanya ada apabila dibiasakan dan dilatih terus-menerus, misalnya dengan cara belajar membiasakan berusaha khusyu’ dalam shalat.

Mujahadah dapat diartikan juga jihad atau berperang melawan musuh-musuh yang menyerang sewaktu kegiatan menghapal hendak dimulai atau sedang berlangsung. Musuh-musuh tersebut antara lain:

1. Malas,[19] biasanya datang sebelum kegiatan menghapal berlangsung sehingga mengakibatkan kegiatan tertunda bahkan gagal dilaksanakan. Malas adalah pengaruh dari bisikan setan yang diperturutkan. Banyak cara yang dapat dijalankan dalam memeranginya, tapi yang terpenting adalah membendung hati serapat mungkin agar tidak dapat ditembus oleh bisiskan setan selembut apa pun. Ketika hati mengatakan, nanti ah sebentar lagi, biar konsentrasinya bisa full. Ketahuilah, itu bukan kata hati, tapi bisikan setan. Konsentrasi tidak akan datang dengan ditunggu. Cepatlah langkahkan kaki, wudhu, ambil mushaf, dan segeralah menghapal. Kalau kata-kata itu diturutkan, akan menyesal. Karena, jangan salah, apabila kita menyakini saat ini terasa berat menghapal, maka pada saat sesudanya tentu akan lebih berat lagi. Kalau saat ini banyak gangguan, maka saat sesudahnya akan lebih banyak lagi. Kita tidak akan pernah tahu apa sebenarnya yang akan terjadi kepada kita setelah ini. Misalnya, jam 8 pagi adalah waktu menghapal, waduuh masih capek habis piket, habis ini, habis itu. Nanti ah bentar lagi, rebahan dulu setengah jam biar fresh. Ternyata ketiduran, dan bablas sampai jam sepuluh. Mana cucian banyak. Lalu nyuci dulu sekalian mandi. Selesai jam sebelas. Sudah rapi, eh ada tamu. Ngajak ngobrol, sampai jam 12. Shalat zhuhur. Setelah itu waktunya makan siang, lapar. Makan dulu. Ternyata makanannya tidak cocok, sakit perut. Pergi ke WC. Di WC antri. Tak tahan menahan sakit, terpaksa mencari WC alternative. Karena dibuangnya telat, sakit perut berkelanjutan. Beli obat, tidak cocok, akhirnya berbaring kesakitan. Dan menghapalnya gagal total. Ingat..!, malas tidak akan kalah hanya dengan pengingkaran hati. Malas hanya akan kalah dengan tindakan nyata dalam bentuk mengerjakan segala apa yang bertentangan dengan keinginannya.
2. Mengantuk,[20] biasanya datang di pertengahan menghapal atau sesaat setelah dimulai. Mengantuk ini seringkali terjadi disebabkan kurang istirahat, terlalu capek, dan kebanyakan makan. Tapi adakalanya, mengantuk datang tiba-tiba tanpa diketahui sebabnya. Kadang aneh, sebelum mushaf dibuka, tidak mengantuk, mata terasa segar, bahkan sempat tertawa-tawa, tapi ketika mushaf telah dibuka dan ayat telah dibaca, maka mulut mulai menguap, dan mata mendadak lemah seakan-akan tidak pernah segar sebelumnya. Mungkin akibat kurang konsentrasi. Namun yang jelas, mengantuk ini merupakan salah satu bentuk godaan yang dihembuskan setan agar kegiatan menghapal berlangsung tidak sempurna atau gagal. Ketika rasa kantuk menyerang, jangan diturutkan, meskipun hati memberikan pertimbangan lain. Misalnya kata hati, tidurkan dulu, biar menghapalnya tenang dan bisa konsentrasi. Itu bukan kata hati, tapi kata-kata setan yang menyelinap ke dalam hati. Tepislah kata-kata itu dengan menyatakan, sebaiknya selesaikan menghapal dulu, biar nanti tidurnya tenang. Karena seandainya diturutkan, terus misalnya tidur dulu, maka tetap saja ketika dimulai lagi menghapal, pasti rasa kantuk akan datang lagi. Ketika kantuk mulai menyerang, diharapkan segera mengambil air wudhu meskipun harus sampai berulang-ulang. Ternyata masih juga mengantuk, rubah posisi duduk anda. Coba lakukan menghapal dalam keadaan berdiri, berjalan, pindah tempat, atau berlari. Teruslah berjuang hingga kantuk itu kapok berhapadan dengan anda.
3. Melamun,[21] biasanya muncul dalam kondisi capek. Ingin hati cepat selesai 30 juz, apa daya se-halaman pun susah. Otak ngedrop, tidak ada semangat, tugas banyak. Itu pengen bisa , ini pengen bisa, tapi satu pun belum dapat direalisasikan, karena ternyata sangat sulit diwujudkan. Dalam kondisi itu, biasanya melamun dapat sedikit menenangkan. Dalam lamunan tergambar seandainya sudah selesai hapal 30 juz, dapat prestasi, dapat uang banyak, bisnis sukses, jadi sarjana, punya pesantren, hidup penuh kebahagian dan kecukupan. Hai….! Bangun, cita-cita dan harapan tidak akan terwujud dengan melamun. Baca istighfar. Setan sedang berbisik ke dalam hati yang lelah. Kepalkan tangan sekuat-kuatnya, usir setan dengan memompakan semangat baru dalam niat yang ikhlash. Ingat baik-baik, bahwa yang sedang dihadapi itu adalah lebih mulia dari apa yang dilamunkan. Kenapa anda begitu tertarik dengan apa yang dilamunkan itu, sedang semua itu tidak ada nilainya sama sekali dibandingkan dengan kegiatan menghapal yang sedang anda hadapi. Seharusnya anda lebih bersemangat melakukan apa yang sedang anda lakukan itu. Ingatkah anda kepada niat awal anda? Sudah ikhlaskah anda? Lalu kenapa anda tidak bersemangat? Bangun, cepat selesaikan kegiatan menghapal anda! Orang ikhlas tidak akan pernah merasa kecewa apalagi patah semangat meskipun secara lahir usahanya selalu gagal. Karena tujuannya adalah Allah SWT, dan ia yakin bahwa Allah SWT tidak akan pernah menyia-nyiakannya. Kesulitan adalah tantangan. Anda belum benar-benar ikhlas sebelum anda menganggap hal terberat menjadi hal yang paling ringan. Anda harus malu kalau anda menghapal tapi belum merasakan lelah, letih, dan getirnya, karena berarti anda belum benar-benar Mujahadah. Balaslah semua hambatan itu dengan senyuman, dan tetap semangat.
4. Keterbatasan Waktu.[22] Setiap orang sehari semalam, waktunya tidak lebih dari 24 jam. Sebagian orang ada yang dapat menyelesaikan hal-hal besar dalam waktunya itu, dan sebagian lagi dalam waktunya itu mengurus diri sendiri saja tidak bisa. Dalam menghapal al-Quran jangan merasa tidak mempunyai cukup waktu. Kesibukan jangan dijadikan alasan. Coba atur waktu anda dengan baik. Kalau anda benar-benar sibuk dan padat, gunakan waktu sempit. Mushaf harus selalu ada di tangan. Misalnya, keseharian kita adalah berangkat ke sekolah tiap pagi, dari tempat kita ke sekolah berapa lama, biasanya kita ngapain aja selama perjalanan itu?. Tidak ada khan? Gunakanlah untuk menghapal. Tentu di sekolah pun tidak akan full belajar, ada kosongnya, ada istirahatnya, biasanya kita ngapain aja selama waktu kosong dan istirahat itu?. Tidak ada khan?. Nah, pergunkanlah untuk menghapal. Kemudian hal yang sama lakukan ketika pulangnya. Dan mungkin masih banyak lagi waktu-waktu yang lainnya. Anda jangan menganggap remeh waktu yang sempit. Jangan berfikir bahwa dalam waktu sesingkat itu tidak dapat melangsungkan kegiatan menghapal atau merasa tanggung. 5 menit, misalnya, itu sudah cukup, meskipun tentunya tidak banyak yang didapatkan. Konsentrasi pun tidak seperti di waktu yang khusus. Tapi harap diketahui, kadang-kadang manusia itu menjadi cerdas dan produktif ketika telah terdesak. Namun ketika ternyata tidak dapat hasil, tidak apa-apa, yang penting kita sudah ada usaha. Karena, jangankan usaha yang masih bisa kita ukur, usaha sebesar atom saja akan dapat terlihat hasilnya di akhirat kelak. Coba bayangkan kalau kesempatan lima menit itu muncul sepuluh kali dalam 24 jam. Tentunya juga sedikitnya 50 menit sudah digunakan untuk menghapal.
5. Ketidakcocokan Lingkungan.[23] Itu nafsu, jangan dimanjakan. Ketika mengalami suatu kendala, jangan suka menyalahkan, dan mengandai-andai sesuatu yang tidak-tidak. Misalnya, di pesantren, sebagian santri mungkin ada yang merasa berat dengan tugas-tugas pesantren hingga hapalannya tidak maksimal. Karena keadaan yang serba tidak kondusif, sebagian teman ada yang galak, dimarahin pengurus, dan keluhan ini-itu adalah dibuat oleh diri sendiri. Buktinya, kalau sedang tidak ada masalah, tidak ada keluhan apa-apa. Memang pada saat-saat tertentu, ketidakcocokan itu kadang-kadang ada, semuanya bertentangan dengan keinginan. Lawanlah perasaan itu, teruslah bertahan smapai segalanya tercapai. Jangan bersedih. Jangan merasa tidak ada yang menyayangi. Allah SWT sendiri yang langsung akan memanjakan. Lihatlah Bilal Ibn Rabah, kenapa dia begitu sukses. Apakah dia berada di lingkungan yang pas dengan keinginannya. Sedikit pun tidak. Bahkan sebaliknya. Dia sukses justru dikarenakan di sekelilingnya dipenuhi dengan segala bentuk ketidakcocokan, namun dia tetap bertahan. Renungkanlah..!
6. Sakit.[24] Hal ini sudah biasa bagi santri, dan suka dijadikan alasan untuk tidak mengaji dan tidak menghapal.. Kadang-kadang aneh juga, sebagian santri hanya sembuh apabila telah diidzinkan pulang. Itu tidak baik, jangan dibiasakan. Penyakit harus dilawan pantang mundur. Periksakan ke dokter, minum obat dengan teratur. Usahakan menghapal jangan berhenti keculai dilarang dokter. Karena menghapal dengan ikhlas dan niat ibadah akan mempercepat penyembuhan. Sadarlah senantiasa, bahwa datangnya sakit adalah salah satu cara Allah SWT untuk mengampuni dosa hamba-hamba-Nya.
C. Doa[25]

Pada saat-saat tertentu, kadang ditemukan proses menghapal yang benar-benar sulit. Sudah masuk, lepas lagi. Sudah hapal, lupa lagi. Sampai mempengaruhi kondisi fisik menjadi tidak stabil, pusing, mual, dan lain sebagainya. Maka, teruskan usaha, sering-sering berdoa, baik di waktu-waktu khusus maupun umum. Mintalah doa sama orang tua, guru-guru, orang-orang shaleh, dan teman-teman. Juga sebaliknya, kita harus mendoakan mereka. Bacalah doa dan shalawat sebelum dan sesudah mengaji dengan khusuk dan khidmat. Renungkan maknanya dengan hati, jangan asal bunyi. Yakinlah bahwa sesungguhnya Allah SWT itu dekat, lebih dekat dari urat nadi, Maha Mendengar setiap doa yang dipanjatkan, dan Maha Mengetahui segala isi hati.

Diriwayatkan bahwa Ali Ibn Abi Thalib bertaka kepada Rasulullah SAW: “Ya Rasulallah, al-Quran sering lepas dari dadaku”. Rasulullah SAW bersabda: “Akan aku ajarkan kepadamu doa-doa yang menyebabkan Allah SWT akan memberikan kemanfaatan bagimu dan orang-orang yang kamu ajari doa-doa ini”. Ali berkata: “Ya, dengan bapakku, engkau ku tebus, dan ibuku”. Rasulullah SAW bersabda: “Shalatlah pada malam jum’at sebanyak empat rakaat. Rakaat pertama membaca al-Fatihah dan Yasin, rakaat kedua membaca al-Fatihah dan al-Dukhan, rakaat ketiga membaca al-Fatihah dan Alif Lam Mim Tanzil, dan rakaat keempat membaca al-Fatihah dan Tabarak. Setelah selesai, memujilah kepada Allah, shalawat ke para Nabi, dan beristighfarlah untuk orang-orang mukmin, kemudian bacalah doa ini:

اَللَّهُمَّ ارْحَمْنِي بِتَرْكِ الْمَعَاصِي أَبَدًا مَّا أَبْقَيْتَنِي، وَارْحَمْنِي مِنْ أَنْ أَتَكَلَّفَ مَا لاَ يَعْنِينِي، وَارْزُقْنِي حُسْنَ النَّظْرِ فِيمَا يُرْضِيكَ عَنِّي أَللَّهُمَّ بَدِيعَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَا ذَا الجَلَالِ وَالْأِكْرَامِ، وَالْعِزَّةِ الَّتِي لَا تُرَامُ، أَسْأَلُكَ يَا اَللهُ يَا رَحْمَنُ بِجَلاَلِكَ وَنُورِ وَجْهِكَ أَنْ تُلْزِمَ قَلْبِي حُبَّ كِتَابِكَ كَمَا عَلَّمْتَنِي وَارْزُقْنِي أَنْ أَتْلُوَهُ عَلَى النَّحْوِ الَّذِي يُرْضِيكَ عَنِّي وَأَسْأَلُكَ أَنْ تُنَوِّرَ بِالْكِتَابِ بَصَرِي وَتُطْلِقَ بِهِ لِسَانِي وَتُفَرِّجَ بِهِ عَنْ قَلْبِي وَتَشْرَحَ بِهِ صَدْرِي وَتَسْتَعْمِلَ بِهِ بَدَنِي وَتُقَوِّيَنِي عَلَى ذَلِكَ وَتُعِينَنِي عَلَيهِ فَإِنَّهُ لاَ يُعِينُنِي عَلَى الْخَيرِ غَيرُكَ وَلاَ يُوَفِّقَ لَهُ إِلَّا أَنْتَ[26]

Kerjakanlah selama tiga jum’at, lima, sampai tujuh jum’at, niscaya Allah SWT akan memberikan hapalan yang kuat kepadamu, dan aku belum pernah salah memberikan yang terbaik untuk seorang mukmin”. Setelah tujuh jum’at, kemudian Ali datang kembali dan menceritakan bahwa hapalannya kini sangat kuat, baik al-Quran maupun hadits. Maka Nabi SAW bersabda: “Seorang mukmin, demi Rabb Ka’bah, telah mengajari Abi Hasan, telah mengajari Abi Hasan”.[27]


D. Meningkatkan Ibadah[28]

Menghapal al-Quran adalah amal yang begitu mulia, dan ibadah yang mempunyai kedudukan khusus di sisi Allah SWT. Sudah selayaknya mewujudkannya pun harus dengan aktifitas ibadah pula. Perbanyak kwantitasnya, tingkatkan kwalitasnya. Shalatnya, puasanya harus ditambah. Sabar, dan senantiasa mengharap pertolongan Allah SWT. Berakhlaklah dengan akhlak al-Quran. Al-Quran jangan sekedar dibaca dan diulang-ulang dengan lidah. Bukan untuk mencari dunia, tapi dicari oleh dunia. Temukan keindahan-keindahan tiada tara di balik setiap lafazhnya, pasti akan terpesona, dan hati tidak bepaling kepada selainnya. Insyallah, hapalan akan kuat dan menentramkan.

Syaikh Zainuddin al-Malibary menulis beberapa sifat yang harus dimiliki oleh seorang qari dan hafiz dalam bait-bait syairnya, sebagai berikut:[29]

1. Bagi Qari dan Hafizh haruslah berakhlak
-dengan akhlak-akhlak yang baik dan diridoi, seraya menyempurnakan
2. Seperti zuhud terhadap dunia, dan meninggalkan kepedulian
-terhadap dunia dan ahli-ahlinya, seraya menyedikitkan
3. Begitu juga, murah hati, dermawan, berakhlak mulia,
wajah yang berseri-seri, dan tidak masam
4. Penyabar, tegar, dan menghindar
-dari pekerjaan yang rendah, seraya memaksakan diri
5. Senantiasa tenang, wara’
khusyu’, dan tawadhu, seraya mencari kesempurnaan
6. Menggunting kumis, menyisir janggut,
memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak, maka kerjakanlah
7. Menghilngkan bau yang tidak sedap, kotoran-kotoran badan,
dan menghindari pakaian-pakaian yang makruh, maka maksimalkanlah
8. Begitu juga, menjauhi tempat-tempat tertawa
Menjauhi banyak bercanda dan berlebihan
9. Hati-hatilah dengan ujub, ria, hasad
dan meredahkan orang lain dengan takabbur
10. Gunakanlah dzikir dan doa ma’tsur,
demikian pula tasbih dan tahlil yang jelas sumbernya
11. Senantiasalah ingat kepada Allah saat sepi dan ramai,
dan hanya kepada Allah, dalam segala urusan, bersandarlah
12. Ini adalah sebagian adab bagi pembaca dan penghapal al-Quran,
dan carilah sisanya dari kitab al-Tibyan, dan menghadaplah dengan menyempurnakan

Akhlak yang harus didahulukan dalam menghapal al-Quran ini adalah akhlak yang berhubungan langsung dengan al-Quran itu sendiri, yaitu mengagungkannya. Bentuk mengagungkan al-Quran, sebagaimana ditulis Syaikh Nawawi al-Bantany, adalah jangan membaca dan menyentuhnya kecuali dalam kedaan suci dari hadats dan dari najis, harus bersiwak dan membersihkan sisa makanan dari gigi sebelum membacanya, duduk dengan tegak kecuali dalam shalat, jangan sambil bersandar,[30] harus memakai pakaian indah karena pembaca berarti sedang bermunajat kepada Allah SWT, menghadap qiblat, berkumur setiap kali berdahak, menghentikan bacaan ketika menguap, membacanya dengan tenang dan tartil, memenuhi hak-hak setiap hurufnya, jangan membiarkan lembaran mushaf terbuka ketika sedang disimpan, jangan meletakan sesuatu apa pun di atasnya hingga al-Quran selamanya di atas semua kitab, harus meletakannya di atas lahunan atau di atas sesuatu yang tinggi di hadapannya saat membaca, jangan meletakannya tergeletak di atas lantai, jangan melebur tulisan al-Quran dari semisal papan dengan air ludah melainkan harus mencucinya dengan air, jangan menyimpan lembaran yang sudah rusak dan usang dengan alasan pemelihraan karena merupakan kezaliman yang besar, melainkan harus meleburnya dengan air, jangan membacanya di pasar-pasar, tempat-tempat gaduh, sia-sia, dan tempat kumpul orang-orang badung,[31] air bilasannya[32] jangan dibuang ke tempat sampah, tempat najis, dan tempat yang suka diinjak orang apabila ada seseorang yang mandi dengan bilasan itu untuk kesembuhan, melainkan harus menuangkannya ke suatu tempat yang tidak suka diinjak orang, atau menggali sebuah lubang di tempat yang suci hingga dapat dituangkan ke sana dan diserap oleh tanah, atau ke dalam sungai yang besar hingga bercampur dengan airnya lalu mengalir, dan harus menyebut nama Allah SWT dalam setiap hembusan nafas ketika menulisnya atau meminumnya, dan harus membesarkan niat karena Allah SWT akan memberi seseorang sesuai niatnya.[33]

E. Menghindari Maksiat[34]

Salah satu penyebab sulitnya menghapal adalah maksiat. Iman Syafi’i dalam sya’irnya menceritakan pengalamannya dalam menghapal. Katanya, hapalannya begitu buruk, sulit mendapatkannya, dan mudah hilangnya. Lalu ia adukan masalahnya itu kepada gurunya yang bernama Wakai’. Kemudian gurunya menunjukan agar Imam Syafi’i meninggalkan maksiat. Karena sesungguhnya ilmu, terlebih al-Quran, adalah cahaya di atas cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang melakukan maksiat.

Bayangkan, sebegitunya Imam Syafi’I, seorang ulama yang terkenal cerdas dan sholeh, pada umur tujuh tahun sudah hapal al-Quran dan taat beribadah, masih saja mengeluhkan hapalannya yang buruk dan diperintahkan untuk meninggalkan maksiat. Apalagi kita, tentu lebih harus lagi. Jagalah hati baik-baik, jangan sampai ada lintasan-lintasan yang mengotorinya. Tundukan pandangan. Tutup telinga dari suara-suara dosa. Tahan lidah dari mengatakan dusta, ghibah, dan zhalim. Peliharalah kemaluan, dan kontrol tangan dan kaki, jangan sampai mengayun kepada keburukan.

Syaikh Abdullah Ibn al-Husain al-Ba’alawy, dalam kitabnya, Sullamut Taufiq,[35] merinci beberapa maksiat yang harus dihindari. Ia membagi maksiat ke dalam beberapa kategori, yaitu maksiat hati, maksiat perut, maksiat mata, maksiat lidah, maksiat telinga, maksiat tangan, maksiat kemaluan, maksiat kaki, dan maksiat badan.

Maksiat-maksiat hati, antara lain:

1. Riya dengan amal baik
2. ‘Ujub, yaitu merasa bahwa ibadah yang dilakukannya muncul dari dirinya sendiri, bukan nikmat Allah
3. Ragu kepada Allah SWT
4. Merasa aman dari siksa Allah SWT
5. Putus asa kepada rahmat Allah SWT
6. Takabbur kepada hamba-hamba Allah SWT
7. Dendam yang diturutkan
8. Dengki
9. Menyebut-nyebutkan shadaqah
10. Bertahan, tidak berniat keluar dari dosa
11. Buruk sangka kepada Allah SWT, dan kepada hamba-hamba-Nya
12. Mendustakan taqdir
13. Senang dengan perbuatan maksiat
14. Menipu, meski kepada orang kafir
15. Melakukan makar
16. Membenci para shahabat dan keluarga Nabi, serta orang-orang shaleh
17. Tidak mau mengeluarkan apa yang telah diwajibkan oleh Alllah SWT untuk dikeluarkan
18. Pelit
19. Terlalu menginginkan harta dunia
20. Menghinakan apa-apa yang diagungkan Allah SWT
21. Menganggap remeh apa-apa yang dianggap besar oleh Allah SWT, seperti tha’at, maksiat, al-Quran, ilmu, surga, dan neraka
Maksiat-maksiat perut, antara lain:
1. Memamakan riba, pajak, barang yang didapatkan dengan mengghasab, hasil curian, dan barang yang dihasilkan dari setiap transaksi yang diharamkan oleh Allah SWT
2. Meminum khamar
3. Menkonsumsi segala sesuatu yang memabukan, yang najis, dan yang menjijikan
4. Memakan harta yatim dan wakaf yang bukan haknya
Maksiat-maksiat mata, antara lain:
1. Melihat perempuan yang bukan mahram, dan sebaliknya
2. Melihat aurat. Maka diharamkan bagi laki-laki melihat sedikit saja dari bagian badan perempuan yang bukan mahram dan bukan istri. Dan diharamkan bagi perempuan membuka sedikit saja bagian tubuhnya di hadapan orang yang tidak halal melihatnya. Dan diharamkan bagi laki-laki dan perempuan membuka bagian tubuh antara pusar dan lutut di hadapan orang yang dapat melihat aurat meskipun sesama jenis dan mahram kecuali suami istri.
3. Melihat kepada orang muslim dengan tujuan menghinakan
4. Melihat ke dalam rumah orang lain tanpa idzin
5. Melihat rahasia orang lain tanpa idzin
6. Melihat kemunkaran tanpa menginkarinya dan tanpa udzur serta tidak segera menjauhinya
Maksiat-maksiat lisan, antara lain:
1. Ghibah, menggunjing
2. Namimah, mengadu domba, baik antar manusia maupn binatang
3. Berdusta
4. Sumpah palsu
5. Kata-kata menuduh zina
6. Mencaci dan menjelek-jelekan para shahabat Rasulullah SAW
7. Kesaksian palsu
8. Inkar janji
9. Melambatkan membayar hutang padahal sudah ada untuk membayarnya
10. Mamarahi orang lain
11. Mencaci maki
12. Mengutuk
13. Mengolok-olok orang muslim
14. Setiap kata yang dapat menyakiti orang muslim
15. Berdusta terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya SAW
16. Pengakuan palsu
17. Thalaq bid’i, yaitu menceraikan istri pada masa suci, yang pada masa suci itu pernah dijima’
18. Zhihar, yaitu menyerupakan istri dengan mahram suami dengan maksud menghramkannya untuk digauli, misalnya, suami mengatakan kepada istrinya: “Kamu bagiku seperti punggung ibuku”
19. Salah membaca al-Quran, meskipun tidak sampai merusak makna
20. Orang kaya meminta-minta
21. Nadzar dengan tujuan menglangi ahli warits
22. Tidak mewasiatkan hutang atau barang yang tidak diketahui oleh selain dirinya
23. Menisbatkan diri kepada selain bapaknya atau tuannya
24. Melamar perempuan yang telah dilamar oleh orang lain
25. Berfatwa tanpa ilmu
26. Mengajarkan dan mempelajari ilmu yang berbahaya
27. Berhukum dengan selain hukum Allah SWT
28. Memanggil-manggil, menjerit-jerit, dan meratapi orang yang meninggal
29. Setiap ucapan yang menyemangatkan kepada melakukan sesuatu yang diharamkan, dan mengendurkan dari melakukan yang wajib
30. Berkata buruk mengenai agama, salah seorang Nabi, ulama, syara’, al-Quran, atau salah satu dari syi’ar-syi’ar Allah SWT
31. Meniup terompet
32. Diam dari melakukan amar ma’ruf dan nahyi munkar
33. Menyembunyikan ilmu wajib pada saat ada orang yang mencarinya
34. Mentertawakan orang yang keluar angin
35. Mentertawakan orang muslim dengan maksud merendahkan
36. Menyembunyikan kesaksian
37. Melupakan al-Quran
38. Tidak menjawab salam yang wajib
39. Ciuman yang mebangkitkan syahwat bagi orang yang sedang ihram haji atau umrah, dan bagi orang yang sedang puasa
40. Mencium orang yang tidak halal dicium
Maksiat-maksiat telinga, antara lain:
1. Mendengarkan ucapan yang dirahasiakan darinya
2. Mendengarkan alat-alat musik yang dilarang, dan mendengarkan setiap suara yang diharamkan, seperti mendengarkan ghibah, namimah, dan setiap ucapan yang diharamkan, kecuali tidak sengaja atau dipaksa, tetapi wajib harus menginkarinya dengan hati
Maksiat-maksiat dua tangan, antara lain:
1. Curang dalam menakar, menimbang, dan mengukur
2. Mencuri
3. Merampas secara paksa dan terang-terangan
4. Mengambil hak orang lain (ghasab)
5. Memungut pajak
6. Curang dalam pembagian ghanimah
7. Membunuh jiwa
8. Memukul tanpa hak
9. Mengambil dan memberi suap
10. Membakar binatang, kecuali tidak ada cara lain untuk memusnahkannya
11. Memutilasi binatang, dan menjadikan binatang sebagai bulan-bulanan
12. Segala macam perjudian, termasuk main kelereng bagi anak anak-anak dengan cara pasang
13. Memainkan alat-alat musik yang diharamkan
14. Menyentuh kulit perempuan yang bukan mahram dengan sengaja tanpa hijab, atau memakai hijab tapi ada syahwat
15. Tidak mau membayar zakat atau sebagiannya, atau membayarnya dengan barang yang tidak memenuhi syarat, atau memberikannya kepada yang bukan mustahiq
16. Tidak mau membayar upah kepada pekerja
17. Tidak mau membantu orang yang kesusahan sekedar untuk menyambung nyawanya
18. Tidak mau menyelamatkan orang yang tenggelam tanpa udzur
19. Menuliskan segala sesuatu yang haram diucapkannya
20. Berkhianat
Maksiat-maksiat kemaluan, antara lain:
1. Berzina
2. Sodomi
3. Menggauli binatang, meskipun miliknya
4. Mengeluarkan air mani dengan tangan selain tangan strinya
5. Menggauli istri yang sedang haid atau nifas
6. Membuka aurat di hadapan orang yang haram melihatnya
7. Menghadap atau membelakangi qiblat pada saat buang air kecil dan air besar tanpa dihalangi sesuatu yang memenuhi syarat, kecuali di tempat yang disediakan khusus untuk buang air, seprti WC
8. Buang air besar di dalam masjid atau ke atas sesuatu yang diangungkan, meskipun memakai wadah
9. Tidak melakukan khitan sampai baligh
Maksiat-maksiat badan, antara lain:
1. Mendurhakai orang tua
2. Lari dari barisan perang
3. Memutuskan silatur rahim
4. Mengganggu dan menyakiti tetangga dengan gangguan yang nampak, meskipun tetangganya kafir yang memiliki perjanjian keamanan dengan kaum muslimin
5. Mencat rambut dengan warna hitam
6. Laki-laki menyerupai perempuan, dan sebaliknya
7. Memanjangkan baju sampai terseret ke tanah dengan maksud menyombongkan diri
8. Mencat kedua tangan dan kaki dengan khena bagi laki-laki tanpa ada kebutuhan
9. Memutuskan kegiatan yang fardhu tanpa udzur
10. Memotong (tidak menyelesaikan) kegiatan haji dan umrah yang sunat
11. Meniru-niru ucapan orang lain yang muslim dengan maksud mengolok-olok
12. Memata-matai aib-aib orang
13. Membuat tato
14. Tidak bertegur sapa kepada sesama muslim lebih dari tiga hari, kecuali ada udzur syara’
15. Duduk besama pembuat bida’ah dan orang fasik
16. Memakai perhiasan emas dan perak, dan sutra atau kain biasa yang campuran sutranya lebih banyak, tapi hanya berlaku bagi laki-laki baligh, kecuali cincin perak
17. Bersunyi dengan perempuan yang tidak halal (pacaran)
18. Perempuan bepergian sendirian tanpa ditemani mahramnya
19. Mempekerjakan orang merdeka secara paksa
20. Mengenteng-enteng ulama, pemimpin yang adil, dan cendikiawan muslim
21. Memusuhi para wali
22. Membantu terhadap maksiat
23. Memulas-mulas ucapan buruk agar tampak baik
24. Mempergunakan wadah-wadah emas dan perak, atau menyimpannya
25. Meningggalkan kewajiban, atau mengerjakannya tetapi tidak memenuhi syarat dan rukunya, atau melakukan yang membatalkannya
26. Tidak berangkat shalat jum’at padahal wajib dan tidak udzur, meskipun menggantinya dengan shalat zhuhur
27. Orang sekampung tidak ada satu pun yang mendirikan shalat berjamaah shalat yang lima waktu
28. Mengakhirkan kefarduan dari waktunya tanpa udzur
29. Melempar binatang buruan dengan benda tumpul
30. Membuat bulan-bulanan dengan binatang
31. Perempuan yang sedang menjalani masa iddah tidak tetap di rumah tanpa udzur
32. Tidak berkabung atas kematian suami
33. Menajisi masjid dan mengotorinya meskipun dengan sesuatu yang suci
34. Menunda-nunda haji setelah mampu sampai meninggal
35. Memberikan pinjaman kepada orang tidak ada harapan dapat membayar dilihat dari lahirnya
36. Tidak memberikan tempo kepada orang yang kesulitan membayar
37. Mengorbankan harta dalam kemaksiatan
38. Meremehakn mushaf al-Quran dan setiap ilmu syara’
39. Membiarkan anak kecil yang belum mengerti memainkan mushaf
40. Menggeserkan batas tanah
41. Melakukan sesuatu di jalan dengan apa yang tidak diperbolehkan
42. Mempergunakan barang pinjaman ke dalam sesuatu yang tidak diidzinkan oleh pemiliknya, atau melebihi batas waktu yang ditentukan, atau meminjamkannya lagi kepada orang lain tanpa idzin
43. Melarang orang lain mengambil manfaat dari tempat milik umum, seperti menggembala dan mengambil kayu bakar dari tanah mati, garam dari laut, emas, perak, dan air untuk minum
44. Mempergunakan barang temuan sebelum dicari tahu pemiliknya
45. Duduk menyaksikan kemunkaran, kecuali ada udzur
46. Masuk ke sebuah tempat walimah tanpa idzin, atau diidzinkan tapi karena malu
47. Memuliakan seseorang karena takut keburukannya
48. Tidak menyamakan hak-hak antara istri-istri
49. Perempuan keluar rumah memakai wewangian dan berhias meskipun tertutup dan ada idzin suami, apabila akan melewati laki-laki yang bukan mahram
50. Sihir
51. Tidak mentaati pemimpin
52. Mengurus yatim, masjid, atau jadi hakim dan lain sebagainya padahal tahu bahwa dia tidak mampu menjalaskan tugas tersebut
53. Melindungi orang yang zhalim dan tidak menyerahkannya kepada orang yang hendak menuntut hak darinya
54. Menakut-nakuti orang muslim
55. Membegal
56. Tidak memenuhi nadzar
57. Puasa wishal
58. Mengambil tempat duduk orang lain, atau menyempitkannya hingga mengganggu dan menghambil gilirannya
F. Tawakkal[36]

Setelah semua usaha dilakukan, serahkan hasilnya kepada Allah SWT, niscaya Allah SWT akan mencukupkan. Jangan meresa kecewa ketika hapalan belum dapat padahal sudah berusaha keras. Teruskan usaha itu sambil hati berserah kepada Allah SWT. Allah SWT Maha tahu mana yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Jangan putus asa dan patah semangat manakala hapalan tak kunjung usai. Baru berapa kali kita mengulang-ulang ayat itu? 10 kali? 20 kali? 100 kali? 1000?, itu masih sedikit, tidak sebanding dengan nikmat Allah SWT yang telah diberikannya. Ketika, misalnya, kita baru hapal pada pengulangan ke-seratus, kita jangan menyangka bahwa pengulangan yang pertama tidak berarti. Justru sebaliknya, satu kali pengulangan adalah lebih berarti dari bumi beserta isinya. Apabila ada seseorang sedang memecahkan batu dengan sebuah palu besar, satu kali pukulan tidak berpengaruh apa-apa, dua kali juga sama saja, tiga kali, empat kali, kemudian setelah pukulan ke-sepuluh baru batu tersebut pecah. Apakah pukulan-pukulan sebelumnya tidak berpengaruh? Jelas, berpengaruh. Ingat, tidak akan ada pukulan yang ke-sepuluh kalau tidak ada pukulan yang pertama, ke dua, dan seterusnya.

G. Setoran[37]

Setoran adalah kegiatan membaca hasil hapalan di hapadan mursyid. Kegiatan setoran ini sangat penting dalam menghapal al-Quran, karena akan berpengaruh kepada kelancaran dan kekuatan hapalan. Bagi seorang hafizh, mungkin telah terbiasa merasakan perbedaan yang cukup besar antara hapalan yang sudah disetorkan dan hapalan yang belum disetorkan. Setoran dapat dijadikan ukuran dan evaluasi terhadap hapalan dan bacaan. Kalau tidak disetorkan, tidak akan diketahui sejauh mana hapalan yang telah dimiliki, karena kadang tercampur dengan ayat yang belum benar-benar hapal. Dan dengan adanya setoran, dapat diketahui seberapa lancer hapalan tersebut, dan apabila terdapat bacaan yang salah sewaktu menghapal, maka akan terkoreksi.

LANJUT PASAL 3 dan Penutup

leave a comment